Ibu Hamil Masih Boleh Konsumsi Kafein, Asal….

National Health Service (NHS) serta banyak organisasi lain menyatakan bahwa mengonsumsi 200mg kafein dalam sehari, tidak menimbulkan risiko keguguran dalam pertumbuhan bayi saat berada dalam rahim.

Komentar para ahli ini muncul setelah tulisan penelitian baru yang diterbitkan pada BMJ Evidence Based Medicine membuktikan bahwa tidak ada tingkat konsumsi kafein yang aman bagi pokok hamil. Sebanyak 48 studi mengenai topik tersebut, menghubungkan konsumsi kafein dengan bahaya pada kehamilan.

“Konsumsi kafein ibu berhubungan terkait dengan keguguran, lahir mati, berat tumbuh rendah dan atau kecil untuk usia kehamilan, leukemia akut kala kanak-kanak dan masa kanak-kanak keunggulan berat badan dan obesitas, ” tulis penyataan tersebut, melansir lantaran Asia One , Rabu (9/9/2020).

Meski demikian, tidak ada hubungan kafein dengan kemunculan prematur. Hal ini menyebabkan Psikolog di Universitas Reykjavik, Prof Jack James, menyarankan calon ibu dan wanita harus menghindari minuman semacam teh dan kopi sepenuhnya.

Sementara itu para lihai biasanya merekomendasikan calon ibu & wanita yang mencoba hamil untuk membatasi asupan kafein mereka. Mematok saat ini belum ada penyebutan untuk menghilangkan konsumsi kafein.

Baca Juga: Cinta Laura Bergaya ala Boneka Timur Pusat, Tatapan Matanya Menusuk Kalbu!

Para ahli menyebut kalau makalah itu terlalu waspada sebab bertentangan dengan pedoman yang tersedia saat ini. Konsumsi kafein secara porsi sedang yakni kurang dibanding 200mg, atau setara dengan dua cangkir kopi instan selama kehamilan dinyatakan aman

James mengakui bahwa penelitian ini hanya bersifat observasi. Maka dari tersebut ia tidak dapat menentukan sebab dan akibat yang membahayakan kafein dalam kehamilan.

“Ada begitu banyak hal yang dapat dan tidak boleh dilakukan terpaut dengan kehamilan dan hal terakhir yang kita butuhkan adalah melahirkan kecemasan yang tidak perlu. Dalam akhirnya, wanita harus diyakinkan bahwa kafein dapat dikonsumsi dalam jumlah sedang selama kehamilan, ” kata Apoteker di Universitas Adelaide, Australia, dr. Luke Grzeskowiak.