Penderita TB Masih Dapat Stigma Negatif, Bahkan oleh Rumpun Sendiri

PENYAKIT tubercolosis (TB) memang ialah penyakit yang menular, akan tetapi bukan berarti tidak bisa dicegah. Sayangnya, ketika seseorang mengalami penyakit TB, oleh sebab itu dia malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Dokter Siti Nadia Tarmizi, M. Epid Direktur P2PML Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan, mengeliminasi TB adalah salah satu strategi pendirian kesehatan nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.

Menurutnya, ada enam muslihat yang diterapkan pada negeri pusat dan daerah, yakni peningkatan akses layanan TB yang bermutu dan berpihak pada pasien, optimalisasi promosi dan pencegahan, memanfaatkan hasil teknologi, peningkatan peran komunitas, mitra dan multisektor serta peningkatan tata kelola program dalam kaitannya peningkatan pola kesehatan.

Hendak tetapi, adanya stigma negatif dan diskriminasi dalam klub, membuat strategi keenam strategi tersebut mendapat halangan dan tantangan. Hal ini tentunya harus segera diatasi buat mencapai eliminasi TB 2030.

TB

“Pelanggaran HAM, ciri dan diskriminasi masih serupa menghampiri berbagai intervensi di upaya kita meningkatkan status kesehatan, ” katanya.

“Stigma dan diskriminasi ini tentunya akan menghambat hak pasien dan para penyintas TB terutama buat mengakses layanan dan menyambut manfaat dilayani dengan cantik, ” tambah dia.

Bahkan, stigma itu justru terjadi di dunia terdekat pasien, seperti keluarga, tetangga dan rekan kegiatan. Stigma tersebut juga semakin memperburuk kondisi pasien TB sehingga tidak ingin melangsungkan pemeriksaan dan pengobatan.

“Stigma ini bakal semakin memperburuk kondisi pasien sehingga pasien enggak melakukan pemeriksaan TB akibat daripada stigma tersebut ataupun kemudian stigma tersebut akan membakar secara psikologis penderita TB dalam perjuangannya dalam memulihkan dirinya, ” kata Nadia.