Viral Harga Parkir Terlalu Garib di Yogyakarta, Netizen: Duduk di Bawah Pohon Aja Disuruh Bayar

Setelah heboh penjual pecel lele di zona Malioboro, Yogyakarta yang menetapkan harga tinggi, kini putaran tukang parkir diduga menghasilkan tarif yang tak biasa. Yakni Rp20 ribu untuk kendaraan roda empat.

Cerita ini dibagikan salah satu pengguna Twitter @upil_jaran67. Ia sangat menyayangkan, bahwa citra Yogyakarta jadi kota wisata malah tercoreng oleh oknum yang tak bertanggungjawab.

  viral biaya parkir mahal

“Apapun alasan yang dipergunakan jujur saya juga pernah mengalami, walaupun saya secara pribadi tidak mempermasalahkan tapi ini soal citra turisme jogja, ” tulisnya.

Ia mengatakan, kejadian ini tak jarang berlaku membanderol harga yang tidak wajar untuk sebuah ongkos parkir. Sebab tempat dengan digunakan bukan parkiran dengan diberi argo, akan namun area biasa.

“Rasanya sudah terlalu kerap kita mendengar keluh kesah wisatawan baik lokal jogja sendiri maupun dari asing jogja, ” katanya.

Adanya kesempatan di dalam kesempitan ini menurutnya mau membuat citra pariwisata, semacam Yogyakarta akan tercoreng. Bukannya membangkitkan, malah akan berujung merugikan.

Apalagi di masa pandemi itu, pemerintah sudah bersusah payah membangun kembali pariwisata Nusantara supaya bangkit. Bukan malah memanfaatkan situasi yang terkesan memeras wisatawan lokal, maupun mancanegara.

“Ini seperti menjatuhkan sektor wisata yg sedang bangkit menebus diri dari badai covid.

“Saya punya harapan ada terobosan dengan dilakukan baik oleh pemerintah DIY maupun pemerintah daerah kabupaten / kota, buatlah satgassus pariwisata DIY kalo perlu dibuat seragam dengan ikonik, ” tuturnya.

Hal ini biar mendapatkan respon dari netizen, ikut menyangkan bahwa ada saja sebagian orang yang mengambil keuntungan dengan menetapkan harga pecel lele maka tarif parkir yang tak wajar.

“Sama dengan yang aku alamin. Kejadiannya tahun 2013 apa 2014. Duduk di kolong pohon disuruh bayar, jika gak bayar yah pesan minum atau makan, ” kata @Ne*****.

“Jangan sampai muncul sebutan pariwisata Jogja dihancurkan sebab pelaku pariwisata sendiri. Akan tetapi menurutku oknum tsb merupakan free rider/penumpang gelap, teliti berkontribusi dalam pembangunan wisata tapi ikut ambil mujur dari pariwisata, yang bagaikan ini yang harus digilas, ” ujar @ma****.

“Perlu ditertibkan oknum-oknum yang begitu… Merusak citra baik yang dah dibangun susah payah.., ” introduksi @Za*****.

“Bayar 25k tapi kalo kehilangan ditanggung pemilik buset, ” ujar @ge*****.

(DRM)